Info Tips

“Puisi Pedih Tentang Pecahnya Keluarga: Perjuangan Anak dalam Kehampaan”

4
×

“Puisi Pedih Tentang Pecahnya Keluarga: Perjuangan Anak dalam Kehampaan”

Share this article

Puisi Pedih Tentang Pecahnya Keluarga: Perjuangan Anak dalam Kehampaan

Keluarga, sebuah entitas yang seharusnya menjadi tempat perlindungan dan kasih sayang, namun terkadang memilukan saat pecah. Puisi pedih tentang pecahnya keluarga menggambarkan perjalanan emosional seorang anak dalam menghadapi kehampaan dan kehilangan akibat perpecahan tersebut. Dalam puisi-puisi ini, terkandung derita, kepedihan, dan perjuangan anak-anak untuk mencari makna dari kehidupan yang berubah drastis. Mari kita telusuri lebih dalam melalui lensa puisi yang menyentuh hati ini.

Keberpihakan Langit yang Terbungkus Lukisan Asa

Saat keluarga retak memekik luka,
Anak mengepak sayap cinta
Menuju redup langit

Dalam butir-butir doa tak bersuara,
Mereka bersujud pada lukisan asa,
Mengukir garis-garis kesedihan

Di balik senyum-senyum palsu,
Mengalir sungai pilu

Langit pun bersaksi pada pertemuan,
Antara hujan air mata dengan gerimis pengharapan

Kesendirian di Tengah Huru-Hara

Kelopak bunga layu dalam pangkuan kesunyian,

Di tikungan waktu yang penuh kepiluan,

Dipeluk petala kemerahan hasrat;

Terkurung sendiri di ruang-ruang sempit,

Perubahan Bukan Niat Menjadi Pecundang Hatimu

Perubahan bukanlah niat untuk menjadi pecundang hatimu
Namun perjalanan menuju kedamaian jiwa
Menerobos badai-badai lalu dengan sabar
Lalu mereka sadari;
Sederajat payung dan hujan,
Keruntuhan juga bertemu penantian
Kesendirian bukan topeng tanpa wajah

Sebuah aliran harapan pecinta hatimu
Menggeser seduhan bait cinta dan air mata
Menelanjangi bulir-bulir ricuh jiwa

Namun pelangi tetap tercipta
Walau warnanya pudar oleh senja menyerah

Elok sesungguhnya penantianmu;
Berasa gadis rindumu pada surya pagi;
Terbakar janin asmaramua

Bebaslah bermimpi di taman cita!
Meski nyata ketika kau terbangun adalah simbol
Pecunda-rindumu

;39′;09

Terbentuklah dinding putih hatiku

Hanya punya satu permohonan winarahati:

Percayalah api rinduku pd jiwamu

Kerna itu pula aku tak akan menjebolinya

Apalah artinya jika usia kita panjang namun tidak bahagia?

Berlari sejauh langkahmu!

rupanya sampanye telah benar-benar menghilangkan rasamu

kini hanya tersisa gelas-gelas kosong sepanjang usiamu

Itulah kita ( sedikit demi sedikit )

menggila mengatakan bahwa kita tak ingin mati tapi (sedikit demi sedikit)

aku yakin kita akan bunuh dirimu.