TEH, minuman favorit yang dikenal dengan segudang manfaat kesehatan, ternyata tidak selalu aman bagi semua orang. Khususnya bagi penderita diabetes, beberapa jenis teh yang terlihat tidak berbahaya justru bisa memicu lonjakan kadar gula darah. Melalui wawancara eksklusif, seorang ahli gizi terkemuka, Dr. Riana Kusuma, mengungkapkan tiga jenis teh yang wajib dihindari oleh penderita diabetes demi menjaga stabilitas glukosa dan mencegah komplikasi serius.
Jakarta – Bagi sebagian besar masyarakat, ritual minum teh adalah bagian tak terpisahkan dari gaya hidup. Dari teh herbal hingga teh celup kemasan, popularitas minuman ini terus meningkat berkat citranya yang menyehatkan. Namun, Dr. Riana Kusuma, seorang ahli gizi dengan spesialisasi nutrisi klinis, memberikan peringatan keras. “Banyak pasien diabetes yang datang kepada saya, menganggap semua teh sama. Padahal, ada beberapa teh yang meskipun berlabel ‘sehat’ atau ‘alami’, justru mengandung zat yang bisa merusak kontrol gula darah mereka,” ungkap Dr. Riana.
Pernyataan ini bukan tanpa dasar. Diabetes Mellitus, kondisi kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah, membutuhkan manajemen diet yang ketat. Apa yang dikonsumsi, termasuk minuman, memegang peranan krusial. “Prinsipnya sederhana: hindari segala sesuatu yang bisa meningkatkan glukosa darah secara drastis,” jelasnya.
Berikut adalah tiga jenis teh yang, menurut Dr. Riana, harus dihindari atau dibatasi secara ketat oleh penderita diabetes.
1. Teh Manis Kemasan atau Teh Instan dengan Tambahan Gula
Ini adalah jenis teh yang paling umum dan paling berbahaya. Di pasaran, produk teh kemasan atau teh instan seringkali dipasarkan sebagai minuman pelepas dahaga. Namun, jika Anda perhatikan label nutrisinya, kandungan gulanya sangat tinggi. “Satu botol teh kemasan bisa mengandung 20 hingga 40 gram gula. Itu setara dengan 5-10 sendok teh gula. Penderita diabetes yang mengonsumsinya sama saja dengan menenggak sirup gula. Dampaknya, gula darah akan melonjak tajam dalam waktu singkat,” papar Dr. Riana.
Lonjakan gula darah ini bukan hanya sekadar angka. Secara jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ-organ penting seperti ginjal dan mata. Dr. Riana menyarankan untuk selalu membaca label komposisi. “Carilah produk yang berlabel ‘sugar-free’ atau ‘tanpa gula tambahan’. Namun, lebih baik lagi jika Anda membuat teh sendiri di rumah,” tambahnya. Menggunakan pemanis alami rendah kalori seperti stevia atau madu murni (dalam jumlah sangat terbatas) bisa menjadi alternatif, tetapi disarankan untuk konsultasi dengan ahli gizi terlebih dahulu.
2. Teh Oolong dan Teh Hitam yang Diproses dengan Sirup atau Pemanis Buatan
Teh oolong dan teh hitam secara alami memiliki manfaat antioksidan yang baik. Studi menunjukkan bahwa konsumsi teh tanpa gula dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Namun, masalah muncul ketika teh-teh ini disajikan di kedai-kedai minuman kekinian.
“Seringkali, teh oolong atau teh hitam yang dijual di kafe atau kedai boba dicampur dengan sirup fruktosa tinggi atau pemanis buatan yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Meskipun pemanis buatan tidak mengandung kalori, beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi berlebihan dapat mengganggu mikrobioma usus dan berpotensi memengaruhi respons tubuh terhadap insulin,” jelas Dr. Riana. Ia juga menekankan bahwa penambahan susu kental manis, krimer, atau topping manis lainnya akan semakin memperburuk keadaan. Teh yang seharusnya menyehatkan, berubah menjadi “bom gula” yang siap meledakkan gula darah.
Solusi yang disarankan adalah memesan teh polos (plain tea) tanpa gula. “Jika Anda ingin sensasi rasa, mintalah tambahan potongan buah asli seperti lemon atau stroberi, bukan sirup,” sarannya. Hal ini memastikan Anda mendapatkan manfaat teh tanpa risiko tambahan dari gula tersembunyi.
3. Teh Kombucha dengan Kandungan Gula Tinggi
Kombucha adalah minuman fermentasi yang popularitasnya meroket berkat klaim manfaatnya bagi kesehatan usus. Namun, Dr. Riana memperingatkan penderita diabetes untuk sangat berhati-hati. “Proses fermentasi kombucha memang membutuhkan gula sebagai ‘makanan’ bagi ragi dan bakteri. Namun, masalahnya adalah jumlah gula yang tersisa setelah proses fermentasi selesai seringkali masih tinggi,” ujar Dr. Riana.
Beberapa merek kombucha di pasaran menambahkan lebih banyak gula atau jus buah manis setelah fermentasi untuk meningkatkan rasa. “Ini membuat kandungan karbohidrat dan gula di dalamnya bisa sangat bervariasi. Penderita diabetes harus selalu memeriksa label nutrisi dengan cermat,” tegasnya.
Untuk penderita diabetes, Dr. Riana menyarankan untuk memilih kombucha yang secara spesifik berlabel “low sugar” atau “kombucha kering” (dry kombucha) yang memiliki rasa kurang manis. Atau, lebih baik lagi, hindari kombucha sama sekali jika Anda tidak yakin dengan proses pembuatannya.
Tips Sehat Minum Teh untuk Penderita Diabetes
Selain menghindari tiga jenis teh di atas, Dr. Riana juga memberikan beberapa tips praktis agar penderita diabetes tetap bisa menikmati teh dengan aman:
- Pilih Teh Tawar Tanpa Gula: Teh hijau, teh hitam, teh putih, atau teh herbal (seperti teh chamomile atau peppermint) adalah pilihan terbaik. Mereka kaya akan antioksidan dan tidak mengandung kalori atau gula.
- Tambahkan Rempah-rempah: Untuk menambah rasa, gunakan rempah alami seperti jahe, kayu manis, atau kapulaga. Rempah-rempah ini tidak hanya memberikan aroma yang sedap, tetapi juga memiliki manfaat anti-inflamasi dan dapat membantu kontrol gula darah.
- Waktu Minum yang Tepat: Minum teh di antara waktu makan, bukan saat atau setelah makan besar. Ini membantu tubuh memproses glukosa lebih baik.
- Cek Respons Tubuh: Setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap makanan dan minuman. Selalu pantau kadar gula darah Anda setelah mengonsumsi jenis teh baru untuk memastikan keamanannya.
Dengan pemahaman yang tepat tentang apa yang terkandung dalam minuman, penderita diabetes dapat mengelola kondisi mereka dengan lebih baik. “Mengingat teh adalah bagian dari gaya hidup, penting untuk membuat pilihan yang cerdas. Kesehatan itu bukan tentang larangan, tapi tentang pilihan yang bijak,” pungkas Dr. Riana.
TENTANG PENULIS:
Nadia Putri, adalah seorang jurnalis kesehatan yang berdedikasi untuk memberikan informasi akurat dan terpercaya. Ia sering bekerja sama dengan para ahli medis untuk mempublikasikan artikel yang relevan dan bermanfaat bagi masyarakat.
